Kriteria Pembalut Sehat dan Aman yang Wajib Anda Ketahui

Ciri-Ciri Pembalut Sehat dan Aman yang Wajib Anda Ketahui

Dengan rilisnya hasil pengujian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengenai produk pembalut wanita dan pantyliner yang memiliki kadar klorin yang cukup tinggi, para konsumen pun menjadi semakin berhati-hati saat memilih. Sebab, klorin sendiri sudah dikategorikan sebagai bahan yang memiliki sifat iritasi dan racun.

Hal inilah yang nampaknya menyebabkan keluhan rasa gatal dan iritasi yang timbul ketika konsumen menggunakan produk pembalut. Kementerian Kesehatan RI sendiri sudah melarang penggunaan gas klorin dalam proses produksi pembalut karena bahan ini dapat menghasilkan senyawa yang dikenal dengan dioksin. Nah, senyawa dioksin inilah yang memiliki sifat karsinogenik alias dapat menyebabkan kanker. Penjelasan lebih lengkap, baca Pembalut Anda Sudah Aman? Ketahui 3 Zat Paling Berbahaya dalam Pembalut.

Ciri-Ciri Pembalut yang Sehat dan Aman

Lantas, seperti apa syarat pembalut sehat?

  1. Memiliki Izin Edar

Tentu saja, Anda harus memilih produk yang sudah memiliki izin edar. Izin inilah yang dibutuhkan agar suatu produk dapat dilepas di pasaran dan untuk mendapatkannya, Kemenkes sudah menetapkan berbagai persyaratan dan pengujian yang wajib dipenuhi. Dengan demikian, sebenarnya produk pembalut yang tersedia di berbagai toko sudah dianggap layak dan aman untuk digunakan karena telah mengantongi izin edar tersebut.

  1. Bebas Klorin

Penggunaan klorin dalam produksi pembalut adalah sebagai bahan pemutih. Meski demikian, saat ini sudah ada beberapa teknologi atau metode pemutihan yang bebas klorin dan inilah yang juga disyaratkan oleh Kemenkes. Metode tersebut disebut dengan ECF (Elemental Chlorine-Free) di mana prosesnya tidak menggunakan gas klorin namun klorin dioksida yang bebas dioksin, dan TCF (Totally Chlorine-Free), yang 100% bebas klorin sehingga dijamin bebas dioksin pula.

  1. Memenuhi Peraturan

Berdasarkan SNI 16-6363-2000, sudah dijelaskan pula berbagai syarat agar produk pembalut dianggap layak untuk diedarkan di pasaran. Misalnya, daya serap minimal yang harus dipenuhi adalah 10 kali dari berat awal. Selain itu, pembalut tidak boleh berfluoresensi atau menunjukkan adanya fluoresensi yang menandai kontaminasi. Fluoresensi sendiri merupakan pengujian untuk mendeteksi adanya kontaminasi klorin dan proses pengujian harus dilaksanakan di laboratorium berakreditasi.

  1. Tinggalkan Pembalut Beraroma

Selain itu, jangan gunakan pembalut wanita atau pantyliner yang mengeluarkan aroma atau wewangian tertentu. Memang benar bahwa area pribadi wanita memiliki aroma khas, namun hal itu sebenarnya normal. Produk pembalut wanita yang memiliki wangi tertentu justru bisa mengakibatkan risiko kesehatan di masa depan karena penggunaan bahan kimia tambahan yang berbahaya.

  1. Perhatikan Pemakaiannya

Sekalipun Anda sudah cermat dalam memilih dan berbelanja, hal itu pun masih belum cukup. Penggunaan pembalut yang baik dan benar juga sama pentingnya, mengingat produk ini akan bersentuhan langsung dengan mukosa pada bagian pribadi Anda yang relatif tipis dan lembut. Ganti pembalut setiap beberapa jam sekali secara teratur untuk menghindari penumpukan darah menstruasi dan bakteri. Bahkan, penumpukan bakteri juga dapat menimbulkan infeksi yang menyebabkan penyakit kronis, seperti TSS atau toxic shock syndrome.

  1. Gunakan Pembalut Organik

Selain risiko masalah kesehatan, pembalut sekali pakai yang paling umum tersedia di pasaran juga dapat menimbulkan isu lingkungan dari jumlah sampah yang dihasilkan. Karena itu, jika Anda sudah memutuskan opsi yang tidak hanya sehat tapi juga ramah lingkungan, Anda bisa pertimbangkan pembalut berbahan organik. Bahkan lebih baik lagi, Anda bisa pilih pembalut kain yang dapat dicuci untuk digunakan kembali di kemudian hari.

YLKI pun menyarankan para konsumen di Indonesia untuk menggunakan pembalut kain. Apalagi, sekarang juga sudah dapat ditemukan pembalut kain yang juga dibuat dari bahan alami, seperti serat bambu.

Comments are closed.